Belajar sambil berbagi

Jumat, 16 Oktober 2015

ETIKA KEPERAWATAN DARI SUDUT PANDANG AGAMA


 
   A.    Pengertian  Etika
             Etik atau ethics berasal dari bahasa yunani, yaitu etos yang artinya adat, kebiasaan, perilaku, atau karakter. Sedangkan menurut kamus Webster, etik adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral. Dari pengertian di atas, etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu: a) baik dan buruk; dan b) Kewajiban dan tanggung jawab.
            Etika adalah sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Sebagai cabang filsafat, etika sangat menekankan pendekatan yang kritis dalam melihat dan menggumuli nilai dan norma moral tersebut serta permasalahan-permasalahan yang timbul dalam kaitan dengan nilai dan moral itu. Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap  dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun secara kelompok.

 
            Menurut Magnis Suseno, etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran. Yang memberi kita norma tentang bagaimana kita harus hidup adalah moralitas. Sedangkan etika justru hanya melakukan refleksi kritis atas norma atau ajaran moral tersebut. Atau bisa juga mengatakan bahwa moralitas adalah petunjuk konkret yang siap pakai tentang bagaimana kita harus hidup. Sedangkan etika adalah perwujudan dan pengejawantahan secara kritis dan rasional ajaran moral yang siap pakai itu. Keduanya mempunyai fungsi yang sama, yaitu memberi kita orientasi bagaimana dan kemana kita harus melangkah dalam hidup ini. Tetapi bedanya , moralitas langsung mengatakan kepada kita:”Inilah caranya anda harus melangkah.” Sedangkan etika justru mempersoalkan:”Apakah saya harus melangkah dengan cara itu?” dan “Mengapa harus dengan cara itu?”
            Moralitas adalah sebuah “pranata” seperti halnya agama, politik, bahasa dan sebagainya yang sudah ada sejak dahulu kala dan diwariskan secara tutun-temurun. Sebaliknya, etika adalah sikap kritis setiap pribadi dan kelompok masyarakat dalam merealisasikan moralitas itu. Maka tidak mengherankan bahwa moralitas bisa saja sama, tetapi sikap etis bisa berbeda antara satu orang lainya dalam masyarakat yang sama, atau antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya.
            Apakah yang dilarang oleh masyarakat kita memang benar-benar hal yang buruk? Dan apakah hal yang dinilai tinggi oleh masyarakat kita memang benar-benar baik? Mengapa saya harus bertindak begini dan tidak boleh begitu? Mengapa saya selalu harus jujur? Apakah saya selalu harus jujur dalam segala situasi? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang menuntut sikap kritis dan rasional dalam mewujudkan norma-norma moral. Dan itulah etika.
            Karena etika adalah refleksi kritis terhadap moralitas, maka etika tidak bermaksud untuk membuat orang bertindak sesuai dengan moralitas begitu saja. Etika memang pada akhirnya menghimbau orang untuk bertindak sesuai dengan moralitas, tetapi bukan karena tindakan itu diperintahkan oleh moralitas (oleh nenek moyang,orangtua,guru), melainkan karena ia sendiri tahu bahwa hal itu memang baik baginya. Ia sendiri sadar secara kritis dan rasional bahwa ia memang sudah sepantasnya bertindak seperti itu. Atau, kalau ia akhirnya bertindak tidak sesuai dengan moralitas bukan karena ikut-ikutan atau sekadar mau lain, melainkan karena ia punya alasan rasionl untuk itu. Ia bertindak berdasarkan pertimbangan bahwa hal itu, walaupun bertentangan dengan moralitas, adalah baik baginya dan bagi masyarakat karena alasan-alasan yang rasional.
            Etika bermaksud membantu manusia untuk bertindak secara bebas dan dapat dipertanggungjawabkan, karena setiap tindakannya selalu lahir dari keputusan pribadi yang bebas dengan selalu bersedia untuk mempertanggungjawabkan tindakannya itu karena memang ada alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang kuat mengapa ia bertindak begitu.
            Maka kebebasan dan tanggung jawab adalah kondisi dasar bagi pengambilan keputusan dan tindakan yang etis, dengan suara hati memainkan peran yang sangat sentral.
B.     Pengertian Moralitas
            Untuk mengetahui apa itu etika sesungguhnya kita perlu terlebih dahulu membedakannya dengan moralitas. Moralitas adalah sistem nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia. Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, wejangan, peraturan, perintah dan semacamnya yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik. Moralitas adalah tradisi kepercayaan, dalam agama atau kebudayaan, tentang perilaku yang baik dan buruk. Moralitas memberi manusia aturan atau petunjuk  konkret tentang bagaimana ia harus hidup, bagaimana ia harus bertindak dalam hidup ini sebagai manusia yang baik, dan bagaimana menghindari perilaku-perilaku yang tidak baik.

C.    Etika Deskriptif dan Etika Normative
            Dalam kaitan dengan nilai dan norma yang di gumuli dalam etika, kita menemukan dua macam etika:
1.      Etika deskriptif, yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola perilaku manusia dan apa yang di kejar oleh manusia dalam hdup ni sebagai sesuatu yng bernilai, Etika deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas kokret yang membudaya. Ia berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, dalam suatu masyarakat, tentang sikap orang dalam menghaapi hidup ini, dan tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia bertindak secara etis.
2.      Etika normative, yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia, atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia, dan apa tindakan yang seharusnya diambil untuk mencapai apa yang bernilai dalam hidup ini. Etika normative berbicara mengenai norma-norma yang menuntun tingkah laku manusia, serta memberi penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma, ia menghimbau manusia untuk bertindak yang baik dan menghindari yang jelek.
D.       Pengertian agama
      Dari segi etimologi dinyatakan bahwa istilah agama itu berasal dari bahasa sansakerta, yaitu dari kata : a = yang berarti tidak dan gamae yang berarti kacau, tidak teratur, tidak tetap. Jadi, secara harfiyah, agama iu dapat diartikan sesuatu yang tidak kacau ; jai teratur, atau tidak tak tetap, jadi tetap atau kekal.
      Dari dasar pengertian inilah selanjutnya terjadi pengertian yang semakin berkembang, seperti apa yang kita kenal sampai sekarang. Agama ialah suatu kepercayaan yang berisi norma-norma atau peraturan-peratura yang meata bagaimana cara berhubungan antara manusia dengan sang hyang/ yang maha kuasa, norma atau peraturan-peraturan mana di anggap kekal sifatnya.
      Setiap agama tentulah ada pemeluknya/umatnya. Mereka itulah yang bersepakat mengangkat atau menunjuk orang-orang yang di anggap mempunyai pengetahuan agama, untuk menjadi pengurus dalam arti membina dan memimpin umat dri agama yang bersangkutan.
      Bertolak dari penertian dasar terebut di atas, lambat laun terjadilah kemudian suatu pahm bahwa agama itu tidak lain dari suatu kepercayaan yang di urus oleh sejumlah orang-orang tertentu dengan predikat pendeta (atas sesamanya) yang bertugas menjalankan
      Ataupun  megawasi jalannya norma-norma yang telah di tetapkan itu, supaya di patuhi oleh para pemeluknya. Untuk membedakan norma agama itu dengan peraturan-peraturan lainnya yang non agama, biasanya di tambahi dengan predikat : luhur, suci, keramat, agung dan sebagainya. Bagi mereka yang mematuhinya diberikan sanksi surge loka atau nirwana, dan bagi yang membangkang atau tidak mematuhinya kelak akan mendapatkan balasan yang setimpal, misalnya menjadi lebih hina lagi dar keadaannya yang sekarang pada penjelmaan berikutnya, menurut agama budha.
E.     Sumber agama
      Dari sejarah perkembangan agama dapat di ketahui, bahwa pada garis besarnya sumber agama itu dapat di bagi atas dua kelompok.
1.      Agama langit, Agama yang daangnya dari Allah SWT. Agama seperti inilah agama yang di sebarkan via nabi dan rasul-rasul Allah (Yahudi, Kristen, dan Islam) 
2.      Agama Bumi, Agama yang sumbernya bukan dari Allah SW> Agama seperti ini dengan sendirinya besumber hanya dari kecerdasan otak manusia ( Hindu, Budha, Sinto dan lain-lain).
Justru karena adanya di antara peraturan-peraturan, hukum-hukum dan norma-norma agama itu, ketetapannya dibuat atau diputuskan oleh akal pikiran manusia sendiri atau besama-sama/konferensi, maka jadilah penulis-penulis barat pada umumnya sependapat, bahwa agama itu dapat dimasukan sebagai salah satu bagian dari kebudayaan manusia. Pengertian kebudayaan disini, sebenarnya membawa satu konsekuensi. Kebanyakan itu mempunyai sifat : bekembang gerubah, jadi ada pasag-surutnya. Bila agama di anggap sebagai dari kebudayaan, itu berarti bahwa agama itu juga di anggap sebagai sesuau yang dapat berubah, atau diubah, diganti dibarui, sesuai dengan paham kemajuan ataupn kabutuhan dri manusia yang menganut gama itu.
  Pengertian seperti itu juga menganggap agama sebagai bagian dari kebudayaan, tidaklah dapat di spakati olh islam.
   Inilah yang menjadi masalah prinsip. Islam adalah agama dari Allah SWT = yang diterima via rassul-Nya Muhammad SAW, jadi bukan agama bumi, yang sumbernya sebagai hasi ciptaan dari kecerdasan otak manusia. 
a.   Ajaran-ajaran pokok dari agama ini (Ad-dien) bukanlah budidaya dan hasil keahlian manusia, tetapi ia adalah :
Merupakan tata tertib yang mengatur hubungan dan cara pengabdian antara manusia sebagai hamba dengan yag menjadikannya, ialah Allah SWT Hubungan itu bersifat vertical, tidaka sama derajat; ada namanya manusia, dan ada yang memperhambat, itulah Allah SWT.
b.    Selanjutnya agama ini mengatur pula tata kehidupan manusia sehari-hari, memberikan garis-garis pokok mulai dari soal-soal kenegaraan, hukum perkawinan, hukum dagang/perjanjian jual-beli, mengatur soal-soal warisan, anak yatim, fakir miskin sampai-sampai kepada soal kebersihan rumah tangga dan anggota badan. Hubungan bentuk kedua ini mengutamakn terib hubungan antar sesama manusia;sifatnya horizontal. Tidak ada kelebihan antara seorang arab dengan bukan arab, semua sama di sisi Allah, kecuali dari segi derajat ketakwaan seseorang.
  Dasar-dasar pokok dari ajaran agama ini yang tersimpul dalam nama arkanul iman, sifatnya kekal, jadi tidak menghendaki adanya campur tangan otak manusia di dalamnya. Itu sebabnya islam tidak menerima agama ini di masukan sebagai kebudayaan manusia
            Tegasnya menurut paham islam, agama itu dapat berfungsi mengisi, memperkaya, memperhalus, dan membina kebudayaan manusia, tetapi kebudayaan manusia itu sendiri tidak dapat memberi pengaruh apa-apa terhadp pokok-pokok ajaran yang telah di tetapkan oleh agama itu.
  Kebudayaan manusia dapat di jadikan alat untuk menanamkan rasa keyakinan Beragama tetapi agama tidak dapat di jadikan alat oleh sesuatu kebudayaan.

F.     Komparasi antara Etika dan Agama
   Antara etika dengan agama terdapat titik persamaan dan perbedaan:
           Persamaanya sebagai berikut:
a.       Pada sasarannya : Baik etika maupun agama sama-sama bertujuan meletakkan dasar ajaran moral, supaya manusia dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana yang tercela.
b.      Pada sifatnya : Etika dan agama sama bersifat memberi peringatan, jadi tidak memaksa.

   Perbedaanya sebagai berikut:
a.       Pada segi prinsip : Agama merupakan suatu kepercayaan pengabdian ( dengan segala syarat dan caranya ) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Etika bukanlah kepercayaan yang mengandung pengabdian.
b.      Pada bidang ajarannya : Agama membawa/mengajarkan manusia pada dua jenis dunia ( alam fana dan alam baqa/akhirat). Etika hanya mempersoalkan kehidupan moral manusia di alam fana ini.
c.       Agama (islam) itu sumbernya dari Allah SWT. Tetapi etika dengan macam-macam jenisnya itu, sumbernya adalah dari pemikiran manusia ( sesuai dengan aliran masing-masing).
d.      Ajaran agama dapat melengkapi atau memperkuat ajaran etika, tetapi tidak semua ajaran dan pandangan etika, dapat diterima oleh agama.
   Bila semua keterangan tersebut di atas kita transfer  kepada manusia, itu berarti bahwa semua manusia yang beragama (islam), itu dengan sendirinya mengerti soal-soal etika/moral, tetapi mereka yang hanya mempelajari etika (sebagai suatu ilmu/filsafat), belum tentu beragama. 

 Referensi :
Ismani, nila. 2001. Etika Keperawatan. Jakarta : Widya Medika.
Suhaemi, mimin. 2004. Etika Keperawatan Aplikasi pada Praktek. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar