Belajar sambil berbagi

Senin, 12 Oktober 2015

Kisah Sang Rasul



Inilah sebuah bukti tentang cinta yang sebenar-benarnya, cinta yang dicontohkan Allah Ta'ala melalui kehidupan RasulNya...Pagi itu, walaupun langit mulai menguning tetapi burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Pagi itu, Rasulullah dengan suara lemah memberikan khutbah terakhirnya. "Wahai umatku ... Kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasihNya. Maka taati dan bertaqwalah kepadaNya" "Kuwariskan dua perkara pada kalian yakni Al-Qur'an dan Sunnahku". "Barang siapa mencintai sunnahku, berarti engkau mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersama-sama aku..." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pendangan mata Rasul yang tenang dan menata sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang. Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Isyarat itu telah datang, sudah tiba saatnya. Rasulullah akan meninggalkan kita semua" keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia ...Tanda-tanda itu semakin kuat tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang kondisinya semakin lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.

Disaat itu, kalau saja mampu seluruh sahabat hadir disana pasti akan menahan detik-detik berlalu

Matahari makin tinggi, tetapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup

Sedang di dalamnya Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang berseru mengucapkan salam... "Bolehkah saya masuk?"tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. "Maaf, Ayahku sedang demam" kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani Ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah "Siapakah itu wahai anakku?"... "Tak tahulah Ayahku, sepertinya baru kali ini aku melihatnya" tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan seolah-olah seluruh sudut wajah anaknya itu hendak dikenangnya. "Ketahuilah nak, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. DIALAH MALAIKAT MAUT" kata Rasulullah. Fatimah menahan ledakan tangisnya, Malaikat maut telah datang menghampiri Rasulullah pun menanyakan kenapa jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut Ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini "Jibril jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" tanya Rasulullah dengan suara amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu" kata jibril. Tpi semua itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?"tanya jibril lagi. " Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" tanya Rasul. Jgn khawatir wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: "Kuharamkan syurga bagi siapa saja kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya"kata jibril meyakinkan. Detik-detik wafatnta Rasulullah semakin dekat, saatnya Izroil melakukan tugasnya. Perlahan-lahan Ruh Rasulullah ditarik nampak seluruh tubuh Rasul bersimbah peluh dan urat-urat lehernya menegang "Jibril betapa sakit sakaratul maut ini..." perlahan desiran suara Rasul mengaduh. Ftimah hanya memejamkan matanya sementara Ali yang ada disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijik kah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?''tanya Rasul "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal?"kata jibril. Sesaat kemudian terdengar Rasul memekik karena sakit yang tdk tertahankan lagi "Ya Allah dahsyat sekali maut ini timpakan saja semua siksa maut ini padaku jgn pada umatku"Badan Rasul mulai dingin,kaki dan dadanya sudah tdk bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali pun segera mendekatkan telinganya "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat almaruku"peliharalah sholat dan peliharalah orang2 lemah diantaramu. Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasul yang mulai membiru "ummatii Ummatii Ummatii". Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar kemuliaan itu. Mampukah kita mencintai sepertinya Allahumma sholli'alaa Muhammad wa baarik wa salim'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar