Peningkatan penduduk merupakan masalah serius di Indonesia mengingat jumlah penduduk yang cukup besar tanpa didukung kualitas yang memadai. Kepadatan penduduk ini disebabkan oleh faktor-faktor tertentu antara lain fertilitas (kelahiran). Angka kelahiran di Indonesia tidak dibatasi yang menyebabkan semakin meningkat dan laju pertumbuhan yang tidak terkontrol. Upaya untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, pemerintah mencanangkan program Keluarga Berencana (Novitrista, 2013).
Program Keluarga Berencana sangat banyak jenisnya antara lain vasektomi. Vasektomi merupakan metode kontrasepsi yang dilakukan secara operatif minor pada pria dengan mengeksisi bilateral vas deferens. Vasektomi merupakan upaya pemerintah untuk menghentikan fertilitas yang semakin tinggi. Vasektomi adalah metode kontrasepsi yang dilakukan pada pria yang dapat menjadi solusi baik guna menurunkan tingkat fertilitas (Mir’atul Fitri, 2013).
Prosedur pelaksanaan dalam vasektomi sangat sederhana dan hanya memerlukan waktu yang singkat. Vasektomi dilakukan seperti operasi kecil yang memerlukan waktu sekitar 5-10 menit dengan menggunakan anastesi lokal. Vasektomi pada sterilisasi pria untuk Keluarga Berencana, duktus deferens diikat lalu dipotong guna mencegah sperma keluar dari testis dan epididimis menuju duktus ejakulatoris. Dengan vasektomi, seorang pria tidak dapat menghamili seorang wanita karena saat ejakulasi tidak lagi mengandung sel sperma (Mir’atul Fitri, 2013).
Metode kontrasepsi vasektomi mempunyai beberapa kelebihan. Kelebihan dari vasektomi antara lain dilakukan secara operatif minor yang sangat aman, sederhana dan efektif. Prosedur hanya memerlukan waktu singkat dan menggunakan anastesi lokal. Vasektomi tidak mempengaruhi fungsi seksual pria. Vasektomi tidak memerlukan biaya besar dan dapat dilakuan oleh semua kalangan penduduk (Ratna Sari, 2013).
Tingkat pengetahuan tentang vesektomi di kalangan masyarakat Indonesia masih tergolong sangat rendah. Hal ini tercermin dari sangat rendahnya kesertaan pria dalam ber-KB menggunakan MOP (Metoda Operasi Pria). Penelitian di Kabupaten Tasikmalaya tahun 2012 jumlah akseptor KB aktif adalah 82,81%, tetapi hanya 0.57% yang menggunakan vasektomi. Rendahnya partisipasi pria dalam KB akibat kurangnya pengetahuan pria serta lingkungan yang menganggap KB dan kesehatan reproduksi merupakan urusan dan tanggung jawab perempuan. Materi informasi KB pria yang masih sangat terbatas, demikian halnya dengan kesempatan pria yang masih kurang dalam mendapatkan informasi mengenai KB (Siti Novianti, 2014).
Hal ini menurut Lawrence Green menganalisa perilaku manusia dari tingkat kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut diantaranya pendidikan, pengetahuan, keterjangkauan pelayanan KB, dan peran istri. Pendidikan, jelas mempengaruhi seorang pribadi dalam berpendapat, berpikir, bersikap, dan rasional dalam mengambil keputusan serta lebih terbuka terhadap hal yang bersifat pembaharuan. Seseorang yang memiliki pengetahuan baik tentang KB menunjukkan lebih memiliki kemauan untuk berKB. Faktor keterjangkauan pelayanan KB mempengaruhi yang melihat dari biaya, lokasi dan kemudahan transportasi. Peran Istri, dukungan dari orang yang terdekat dengan calon peserta yaitu keluarga terutama istri. Hambatan istri menjadi penghalang pengembangan partisipasi pria dalam berKB (Desmalita, 2009).
Daftar Pustaka
Novianti, S., & Rian Arie, G.(2014). Faktor Persepsi Dan Dukungan Isteri Yang Berhubungan Dengan Partisipasi KB Pria. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia, 10(2), 1017-1027.
Desmalita, dkk.(2009). Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Partisipasi Pria Sebagai Peserta KB Di Kelurahan Tembilahan Kota Tahun 2008. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 3(2), 77-81.
Hardiani, Sari R., & Mayang, A. P.(2013). Pendidikan Kesehatan Terhadap Sikap Suami Tentang Vasektomi. Jurnal Keperawatan Maternitas, 1(2), 109-117.
Widowati, N.,dkk.(2013). Pencapaian Program Kb Pria: Vasektomi Di Kecamatan Dlingo Dan Sewon, Kabupaten Bantul. Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi, 3(2), 99-109.
Fitri, M.,dkk.(2013). Pengaruh Vasektomi Terhadap Fungsi Seksual Pria. Jurnal e-Biomedik (eBM), 1(1), 496-502.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar